اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Rasulallah SAW memiliki sahabat yang cerdas dan jenaka.
Karena kejenakaannya, sahabat itu kerap membuat Rasulallah SAW tertawa. Nama
sahabat itu ialah Nu’aiman Bin Amr bin Rafa’ah, berikut kisah lucu Nu’aiman.
Dikisahkan suatu ketika Abu Bakar AS akan pergi ke Negeri
Syam untuk berdagang. Sebelum berangkat, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk
memohon restu dan izin untuk mengajak dua orang sahabat, yakni Nu’aiman dan
Suwaibith bin Harmalah.
“Ya Rasulallah! Saya izin akan mengajak dua sahabat ikut
berdagang ke Negeri Syam, yakni Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmalah”, kata Abu
Bakar, Rasulullah SAW pun mengizinkan.
Setelah sampai di Negeri Syam, Suwaibith bin Harmalah
ditugaskan menjaga perbekalan, karena dikenal sebagai orang yang sangat amanah.
Saat Abu Bakar sedang pergi berniaga, dan Suwaibith menjaga makanan, datanglah Nu’aiman kepada Suwaibith di waktu siang mengatakan bahwa dirinya telah lapar.
Nu’aiman Meminta Sepotong Roti
“Wahai Suwaibith, aku sudah sangat lapar, maka berikanlah
saya sepotong roti untuk saya makan saat ini”, ujar Nu’aiman. Akan tetapi,
permintaan Nu’aiman ditolak oleh Suwaibith, karena belum mendapat izin dari Abu
Bakar.
Mendengar jawaban Suwaibith, Nu’aiman langsung mengancamnya,
“Berikan aku sepotong roti itu atau kau akan aku beri pelajaran.” Mendengar
ancaman Nu’aiman, rupanya Suwaibith merasa ciut nyalinya, sebab jangankan
dirinya, Nabi SAW juga pernah Nu’aiman kerjai.
Namun tetap saja, Suwaibith tetap bersikukuh menjaga amanah
dari Abu Bakar dan tidak memberikan sepotong roti itu kepada Nu’aiman. Kesal
dengan perlakuan Suwaibith, Nu’aiman bergegas pergi ke pasar, lalu berusaha
untuk mencari tempat yang menjual hamba sahaya.
Lantas ia langsung menanyakan satu per satu harga hamba
sahaya tersebut yang ternyata berkisar dari harga 100 hingga 300 dirham.
Kemudian, ia mengatakan kepada penjual hamba sahaya itu, “Aku juga punya hamba
sahaya, namun hanya saya jual 20 dirham, murah kan?”, katanya.
Mendengar pernyataan Nu’aiman, penjual tersebut tak percaya
karena harganya yang sangat murah. Lebih lanjut, Nu’aiman menjelaskan bahwa
hamba sahaya yang dimilikinya itu murah karena memiliki aib, di mana ia tak
akan mengaku sebagai hamba sahaya dan menyebut dirinya sebagai orang merdeka.
Akhirnya semua orang berbondong-bondong untuk membeli hamba
sahaya yang ditawarkan oleh Nu’aiman. Nu’aiman menunjuk kepada hamba sahaya
yang akan dijual yang tiada lain adalah Suwaibith.
Setelah Nu’aiman menerima uang 20 dirham tersebut, pembeli
kemudian membawa Suwaibith. Saking kagetnya, Suwaibith berteriak, “Aku bukan
hamba sahaya. Kalian salah menangkap aku. Aku orang merdeka!”
Namun teriakan Suwaibith itu tidak ditanggapi oleh
sekumpulan orang tersebut dan tetap menangkapnya sembari berkata: “Kami sudah
tahu kekuranganmu!” Sembari membawa Suwaibith dan menjualnya ke pasar.
Nu’aiman merasa nyaman sebab kini telah memegang uang yang
banyak. Ia menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, hingga hadiah untuk
Rasulullah SAW.
Tak lama, Abu Bakar pun pulang dari berniaga. Beliau
kebingungan karena tak menemukan Suwaibith di tempatnya. Beliau cari
kemana-mana tidak juga ketemu.
Abu Bakar bertanya kepada Nu’aiman, “Ya Nu’aiman, kemana
perginya sahabatmu, Suwaibith?” Dengan entengnya, Nu’aiman menjawab, “Sudah
saya jual, wahai Abu Bakar.”
Mengetahui hal tersebut, lantas Abu Bakar tertawa dan
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Nu’aiman pun menceritakan semuanya
secara detail perihal kekesalannya kepada Suwaibith yang akhirnya ia memutuskan
untuk menjualnya.
Abu Bakar langsung bergegas ke pasar dan membeli kembali
Suwaibith, hingga ia bebas kembali sebagai orang merdeka. Sepulangnya mereka ke
Madinah, kejadian ini diceritakan kepada Rasulullah SAW.
Mendengar cerita Abu Bakar tersebut, Nabi Muhammad SAW
tertawa sejadi-jadinya hingga gigi geraham beliau tampak di depan para sahabat.
Setahun berlalu, saking terkesannya dengan kejadian
tersebut, yang dirasa aneh dan lucu, di saat tamu-tamu yang datang kepada
Rasulullah SAW, beliau selalu menceritakan kisah Nu’aiman tersebut.
