Holwani Busu O'Holl

Selasa, 02 Desember 2025

Kisah Sahabat, Nu'aiman


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

 

Rasulallah SAW memiliki sahabat yang cerdas dan jenaka. Karena kejenakaannya, sahabat itu kerap membuat Rasulallah SAW tertawa. Nama sahabat itu ialah Nu’aiman Bin Amr bin Rafa’ah, berikut kisah lucu Nu’aiman.

 

Dikisahkan suatu ketika Abu Bakar AS akan pergi ke Negeri Syam untuk berdagang. Sebelum berangkat, ia mendatangi Rasulullah SAW untuk memohon restu dan izin untuk mengajak dua orang sahabat, yakni Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmalah.

 

“Ya Rasulallah! Saya izin akan mengajak dua sahabat ikut berdagang ke Negeri Syam, yakni Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmalah”, kata Abu Bakar, Rasulullah SAW pun mengizinkan.

 

Setelah sampai di Negeri Syam, Suwaibith bin Harmalah ditugaskan menjaga perbekalan, karena dikenal sebagai orang yang sangat amanah.


Saat Abu Bakar sedang pergi berniaga, dan Suwaibith menjaga makanan, datanglah Nu’aiman kepada Suwaibith di waktu siang mengatakan bahwa dirinya telah lapar.

 

Nu’aiman Meminta Sepotong Roti

“Wahai Suwaibith, aku sudah sangat lapar, maka berikanlah saya sepotong roti untuk saya makan saat ini”, ujar Nu’aiman. Akan tetapi, permintaan Nu’aiman ditolak oleh Suwaibith, karena belum mendapat izin dari Abu Bakar.

 

Mendengar jawaban Suwaibith, Nu’aiman langsung mengancamnya, “Berikan aku sepotong roti itu atau kau akan aku beri pelajaran.” Mendengar ancaman Nu’aiman, rupanya Suwaibith merasa ciut nyalinya, sebab jangankan dirinya, Nabi SAW juga pernah Nu’aiman kerjai.

 

Namun tetap saja, Suwaibith tetap bersikukuh menjaga amanah dari Abu Bakar dan tidak memberikan sepotong roti itu kepada Nu’aiman. Kesal dengan perlakuan Suwaibith, Nu’aiman bergegas pergi ke pasar, lalu berusaha untuk mencari tempat yang menjual hamba sahaya.

 

Lantas ia langsung menanyakan satu per satu harga hamba sahaya tersebut yang ternyata berkisar dari harga 100 hingga 300 dirham. Kemudian, ia mengatakan kepada penjual hamba sahaya itu, “Aku juga punya hamba sahaya, namun hanya saya jual 20 dirham, murah kan?”, katanya.

 

Mendengar pernyataan Nu’aiman, penjual tersebut tak percaya karena harganya yang sangat murah. Lebih lanjut, Nu’aiman menjelaskan bahwa hamba sahaya yang dimilikinya itu murah karena memiliki aib, di mana ia tak akan mengaku sebagai hamba sahaya dan menyebut dirinya sebagai orang merdeka.

 

Akhirnya semua orang berbondong-bondong untuk membeli hamba sahaya yang ditawarkan oleh Nu’aiman. Nu’aiman menunjuk kepada hamba sahaya yang akan dijual yang tiada lain adalah Suwaibith.

 

Setelah Nu’aiman menerima uang 20 dirham tersebut, pembeli kemudian membawa Suwaibith. Saking kagetnya, Suwaibith berteriak, “Aku bukan hamba sahaya. Kalian salah menangkap aku. Aku orang merdeka!”

 

Namun teriakan Suwaibith itu tidak ditanggapi oleh sekumpulan orang tersebut dan tetap menangkapnya sembari berkata: “Kami sudah tahu kekuranganmu!” Sembari membawa Suwaibith dan menjualnya ke pasar.

 

Nu’aiman merasa nyaman sebab kini telah memegang uang yang banyak. Ia menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, hingga hadiah untuk Rasulullah SAW.

 

Tak lama, Abu Bakar pun pulang dari berniaga. Beliau kebingungan karena tak menemukan Suwaibith di tempatnya. Beliau cari kemana-mana tidak juga ketemu.

 

Abu Bakar bertanya kepada Nu’aiman, “Ya Nu’aiman, kemana perginya sahabatmu, Suwaibith?” Dengan entengnya, Nu’aiman menjawab, “Sudah saya jual, wahai Abu Bakar.”

 

Mengetahui hal tersebut, lantas Abu Bakar tertawa dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Nu’aiman pun menceritakan semuanya secara detail perihal kekesalannya kepada Suwaibith yang akhirnya ia memutuskan untuk menjualnya.

 

Abu Bakar langsung bergegas ke pasar dan membeli kembali Suwaibith, hingga ia bebas kembali sebagai orang merdeka. Sepulangnya mereka ke Madinah, kejadian ini diceritakan kepada Rasulullah SAW.

 

Mendengar cerita Abu Bakar tersebut, Nabi Muhammad SAW tertawa sejadi-jadinya hingga gigi geraham beliau tampak di depan para sahabat.

 

Setahun berlalu, saking terkesannya dengan kejadian tersebut, yang dirasa aneh dan lucu, di saat tamu-tamu yang datang kepada Rasulullah SAW, beliau selalu menceritakan kisah Nu’aiman tersebut.

Jumat, 28 November 2025

Julaibib Sang Sahabat Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 

 

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya. Demikian pula orang2, semua tak tahu/tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

 

Bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

 

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.

 

Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil, beratapkan langit. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yg diciduk dengan tangkupan telapak tangan.

 

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluk pun bisa menghalangi.

 

Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia... tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.

 

Julaibib yg tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Rasulullah.

 

“Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

 

“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

 

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.

 

Dan di hari ketiga itulah, Rasulullah menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

 

“Aku ingin menikahkan putri kalian.”

 

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya.

 

“Ooh.. Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”

 

“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah,

“ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

 

“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis

 

“Ya. Untuk Julaibib.”

 

“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.

 

“Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

 

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”

 

Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun,

 

“Siapa yang meminta?”

 

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

 

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”.

 

Sang gadis yg shalehah lalu membaca ayat ini :

 

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)

Setelah mendengar persetujuan tersebut dari sang gadis, lantas Rasulullah pun menunduk dan berdoa untuk gadis shalihah itu “ Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah,".

Oleh karena itu, doa Nabi SAW terkabul.Tak lama kemudian, Allah memberinya jalan keluar. Ternyata kebersamaan di dunia ini tidak akan bertahan lama. Wanita ini shalehah dan beriman di dunia, namun bidadari sudah lama merindukannya di surga.

 

Dan benar saja, kala itu kaum muslim mengikuti perang Uhud , dan di akhir peperangan Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” tanya Rasulullah SAW

“Tidak, Ya Rasulullah” jawab mereka. Hal tersebut menandakan bahwa memang Julaibib RA tidak berarti untuk mereka.

Setelah mendengar jawaban itu, lantas Rasulullah SAW pun berkata lagi dengan menghela napasnya

“Tapi aku kehilangan Julaibib” setelah mendengar kalimat tersebut dari Rasulullah, lantas para sahabat pun tersadar dan segera mencarinya.

 

Setelah pencarian itu, akhirnya Julaibib RA pun ditemukan dengan luka sekujur tubuhnya dan disamping jasadnya terdapat tujuh jasad musuhnya yang telah dia bunuh.

Setelah itu, jasad Julaibib RA dibawa oleh Rasulullah untuk dimakamkan dengan Rasulullah sendiri yang mengkafaninya. Rasulullah pun menyalatkannya dan berdoa “ Ya Allah dia adalah bagian dari diriku, dan akua adalah bagianya darinya. Dan hal itu membuat para sahabat berdecak kagum dan sedikit ada rasa iri, bagaimana tidak? Seorang seperti Julaibib RA yang selama ini dihina oleh orang-orang namun begitu sangat mulia dihadapan Rasululullah SAW.

 

Dan kala itu, Rasulullah pun menyampaikan bahwa “Walaupun Julaibib belum sempat merasakan indahnya hidup berumah tangga, belum sempat merasakan indahnya malam pertama dengan istrinya, namun Julaibib RA akan merasakan Indahnya surga ditemani para bidadari.

 

Setelah mendengar kematian dari Julaibib, istrinya dengan menangis pun berkata

“Waha suamiku maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu aku belum sempat melaksankan kewajibanku sebagai istri, meskipun begitu aku sangat bangga terhadapmu yang rela meninggalkan kesenangan duniawi dan berani mempertaruhkan nyawamu dan menemani baginda Rasul berperang untuk membela agama Islam”

“Tunggu aku wahai suamiku, kelak aku akan menyusulmu ke surganya Allah dan aku akan memenuhi kewajibanku sebagai istrimu”

 

Dan setelah itu Rasulullah juga berkata “ Walaupun kehidupan didunia Julaibib sering dihina, sering dicela. Namun kedatangannya Julaibib sedang ditunggu oleh puluhan bidadari surga

 

Demikian kisah tentang Julaibib RA, seorang sahabat Nabi yang insecure karena sering dihina, dicela namun mulia di hadapan Rasulullah SAW. Dan kedatangannya ditunggu oleh puluhan bidadari surga dan diperebutkan oleh bidadari surga.

 

Kita belajar dari Julaibib untuk tidak mengutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan2 yg sangat terbatas.

 

Memang pasti ada batas2 manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita taat kepada Allah, jgn khawatirkan itu lagi. Allah Maha Tahu batas2 kemampuan diri kita. Allah takkan membebani kita melebihi yg kita sanggup memikulnya.

 

Urusan kita sebagai hamba hanya taat kepada Allah.Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah2 yg di luar kuasa kita.

 


Selasa, 25 November 2025

Pengembala dan Kucing Primadona @HBO_27

 


Di sudut desa yang dingin, tergeletak sesosok makhluk yang seharusnya hidup dalam kemewahan: seekor kucing Persia.

Bukan penyakit atau cacat fisik yang merenggut martabatnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih kejam: keegoisan sang pemilik.

Kucing itu dicampakkan, terperosok dalam lumpur penderitaan dan kebingungan.

Bulu tebalnya yang dulu terawat kini lepek, matanya yang bulat besar—biasanya memancarkan keagungan—kini kehilangan sinarnya, tergenang rasa takut dan kekecewaan. Ia tercebur dalam kepahitan tanpa tahu harus mengadu ke mana.

Di keheningan yang dingin itu, seorang Pengembala yang baru selesai dengan urusan ternaknya, duduk di bangku tua, memperhatikan. Dia melihat mata kusam itu, dan naluri peduli yang sederhana, naluri seorang yang biasa merawat makhluk lemah, membimbingnya untuk mendekat.

Dalam keheningan malam, tangan kasarnya menggapai tubuh ringkih itu. "Kau harus selamat," bisiknya pelan.

Tanpa syarat, tanpa pamrih, sang Pengembala hanya berniat memberinya kasih sayang. Dia hanya ingin memastikan si kucing tak merasa sendirian lagi di dunia yang tiba-tiba terasa begitu kejam.

Kucing ini, setelah diberikan kasih sayang, memancarkan pesonanya yang sebenarnya. Dia adalah primadona sejati. Bulunya yang tebal dan wajahnya yang anggun kembali, karena dia memang objek dambaan banyak mata yang ingin memilikinya.

Namun, sang Pengembala menahan diri dari hasrat untuk memiliki. Dia sadar betul: kucing ini telah memiliki pemilik.

Prinsipnya sederhana dan teguh:

dia tidak mau merebut sesuatu yang masih ada pemiliknya.

Andai saja kucing itu sudah tidak ada pemiliknya, tentu sang pengembala akan memutuskan untuk memilikinya, namun dia menunggu waktu hingga nanti jika sudah tidak ada lagi pemiliknya.

Kini fokus tujuannya hanyalah penyelamatan, sebuah pertolongan sementara. Cukup baginya melihat kucing itu pulih dan nyaman.

Hari-hari berganti menjadi bulan. Kurang lebih sembilan bulan lamanya, sang Pengembala meluangkan setiap waktu luangnya. Dia selalu hadir, dia selalu mencoba menghibur, dia merangkul, dia mengusap. Keadaan si kucing berangsur membaik. Mata yang semula redup kini memancarkan binar kebahagiaan. Kucing itu tidak lagi terpuruk; perlahan, ia berhasil keluar dari lumpur penderitaan yang selama ini mencekiknya. Ia kembali menjadi 'Persia' yang anggun, penuh terima kasih, dan nyaman di sekitar penyelamatnya.

🥶

Ironi takdir mulai terjalin tanpa sepengetahuan sang Pengembala. Di balik kehadiran penuh perhatiannya, sang kucing rupanya menyimpan rahasia. Diam-diam, ia kembali bertemu dengan pemilik yang pernah menelantarkannya. Pemilik yang, dalam benak Pengembala, seharusnya sudah menjadi masa lalu yang pahit, dan seharusnya terhapus oleh kenyamanan kasih sayang sang pengembala.

Pukulan terberat datang di tengah perjalanan yang tak terduga.

Sang Pengembala melihatnya.

Di bawah sinar matahari sore, sang kucing Persia, primadona yang telah dia pulihkan dengan segenap jiwa, berjalan riang bersama pemilik lamanya. Pemilik itu membawanya dengan mesra. Mereka tampak bahagia, seolah sembilan bulan kesakitan dan penderitaan di sudut desa yang dingin itu tak pernah terjadi.

Sembilan bulan pengorbanan, waktu, dan harapan, hancur dalam satu adegan.

Kekecewaan yang selama ini sang Pengembala tahan, tumpuk, dan sembunyikan di balik senyum, meledak tanpa peringatan.

"Kenapa?! Setelah semua yang kulakukan?!"

Tanpa sadar, dia membentak sang kucing. Suara dia yang biasanya lembut, yang dulu menenangkan ketakutan si kucing, berubah menjadi teriakan penyesalan dan pengkhianatan. Itu adalah reaksi murni dari hati yang hancur karena merasa dibelakangi dan kecewa oleh pilihan sang kucing yang memilih kembali ke Pemilik yang sudah menelantarkannya.

🌊 

Akibatnya fatal. Kekecewaan sang Pengembala menciptakan trauma baru pada diri kucing. Kucing yang kini sudah sembuh total dari luka fisik, kini terluka lagi secara psikologis. Ia berlari.

Ironisnya, kucing itu mulai melupakan sang Pengembala. Melupakan tangan yang memberinya usapan hangat, melupakan hati yang memberinya tempat berlindung. Sang kucing hanya ingat teriakan terakhir Pengembala itu, sementara perhatian dan kasih sayang sang pengembala selama ini seakan dianggap hilang begitu saja.

Seorang Pengembala yang semula mencoba menyelamatkan seekor kucing dari lumpur penderitaan, kini justru terperosok ke dalamnya sendiri.

Dalam sekejap, narasi terbalik.

Sang Pengembala yang tulus merawat, kini seakan menjadi biang kerok yang mencoba memisahkan sang kucing dari kebahagiaannya.

Kucing yang telah kembali sehat itu kini sepenuhnya diambil oleh pemiliknya, dan terlihat benar-benar bahagia kembali bersama orang yang pernah meninggalkannya dan seakan-akan penderitaan selama ini yang sudah berhasil disembuhkan oleh sang Pengembala tidak terasa dan tidak ada artinya.

Sang Pengembala hanya bisa berdiri, menatap punggung si kucing yang menjauh. Dan menolak untuk menoleh, bahkan memblokir akses sang pengembala dari kehidupannya.

Sang Pengembala menyadari, dengan hati yang remuk,

bahwa terkadang, pengorbanan kita yang paling tulus justru harus berakhir dengan penerimaan pahit:

bahwa kita hanya penolong sementara, dan hati yang kita selamatkan akan selalu punya hak untuk kembali memilih tempat yang terasa seperti rumah, bahkan jika rumah itu adalah sumber dari luka yang kita sembuhkan.

BERSAMBUNG...

di kehidupan selanjutnya 👋🏻🥹

Rabu, 11 Maret 2020

Khoirunnisa @nissa_sabyan @sabyan_gambus Meriahkan Pembukaan MTQ Nasional Tingkat Kabupaten Banjar ke 44 (Jum'at, 06-03-2020)

Pembukaan MTQ Nasional Tingkat Kabupaten Banjar ke 44 di Desa Madurejo Kecamatan Sambung Makmur dimeriahkan oleh Khoirunnisa @nissa_sabyan bersama grup SABYAN sabyan_gambus


lihat di instagram
@HBO_27 @nissa_sabyan @sabyan_gambus

lihat videonya di youtube
@HBO_27 @nissa_sabyan