Holwani Busu O'Holl: Pengembala dan Kucing Primadona @HBO_27

Selasa, 25 November 2025

Pengembala dan Kucing Primadona @HBO_27

 


Di sudut desa yang dingin, tergeletak sesosok makhluk yang seharusnya hidup dalam kemewahan: seekor kucing Persia.

Bukan penyakit atau cacat fisik yang merenggut martabatnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih kejam: keegoisan sang pemilik.

Kucing itu dicampakkan, terperosok dalam lumpur penderitaan dan kebingungan.

Bulu tebalnya yang dulu terawat kini lepek, matanya yang bulat besar—biasanya memancarkan keagungan—kini kehilangan sinarnya, tergenang rasa takut dan kekecewaan. Ia tercebur dalam kepahitan tanpa tahu harus mengadu ke mana.

Di keheningan yang dingin itu, seorang Pengembala yang baru selesai dengan urusan ternaknya, duduk di bangku tua, memperhatikan. Dia melihat mata kusam itu, dan naluri peduli yang sederhana, naluri seorang yang biasa merawat makhluk lemah, membimbingnya untuk mendekat.

Dalam keheningan malam, tangan kasarnya menggapai tubuh ringkih itu. "Kau harus selamat," bisiknya pelan.

Tanpa syarat, tanpa pamrih, sang Pengembala hanya berniat memberinya kasih sayang. Dia hanya ingin memastikan si kucing tak merasa sendirian lagi di dunia yang tiba-tiba terasa begitu kejam.

Kucing ini, setelah diberikan kasih sayang, memancarkan pesonanya yang sebenarnya. Dia adalah primadona sejati. Bulunya yang tebal dan wajahnya yang anggun kembali, karena dia memang objek dambaan banyak mata yang ingin memilikinya.

Namun, sang Pengembala menahan diri dari hasrat untuk memiliki. Dia sadar betul: kucing ini telah memiliki pemilik.

Prinsipnya sederhana dan teguh:

dia tidak mau merebut sesuatu yang masih ada pemiliknya.

Andai saja kucing itu sudah tidak ada pemiliknya, tentu sang pengembala akan memutuskan untuk memilikinya, namun dia menunggu waktu hingga nanti jika sudah tidak ada lagi pemiliknya.

Kini fokus tujuannya hanyalah penyelamatan, sebuah pertolongan sementara. Cukup baginya melihat kucing itu pulih dan nyaman.

Hari-hari berganti menjadi bulan. Kurang lebih sembilan bulan lamanya, sang Pengembala meluangkan setiap waktu luangnya. Dia selalu hadir, dia selalu mencoba menghibur, dia merangkul, dia mengusap. Keadaan si kucing berangsur membaik. Mata yang semula redup kini memancarkan binar kebahagiaan. Kucing itu tidak lagi terpuruk; perlahan, ia berhasil keluar dari lumpur penderitaan yang selama ini mencekiknya. Ia kembali menjadi 'Persia' yang anggun, penuh terima kasih, dan nyaman di sekitar penyelamatnya.

🥶

Ironi takdir mulai terjalin tanpa sepengetahuan sang Pengembala. Di balik kehadiran penuh perhatiannya, sang kucing rupanya menyimpan rahasia. Diam-diam, ia kembali bertemu dengan pemilik yang pernah menelantarkannya. Pemilik yang, dalam benak Pengembala, seharusnya sudah menjadi masa lalu yang pahit, dan seharusnya terhapus oleh kenyamanan kasih sayang sang pengembala.

Pukulan terberat datang di tengah perjalanan yang tak terduga.

Sang Pengembala melihatnya.

Di bawah sinar matahari sore, sang kucing Persia, primadona yang telah dia pulihkan dengan segenap jiwa, berjalan riang bersama pemilik lamanya. Pemilik itu membawanya dengan mesra. Mereka tampak bahagia, seolah sembilan bulan kesakitan dan penderitaan di sudut desa yang dingin itu tak pernah terjadi.

Sembilan bulan pengorbanan, waktu, dan harapan, hancur dalam satu adegan.

Kekecewaan yang selama ini sang Pengembala tahan, tumpuk, dan sembunyikan di balik senyum, meledak tanpa peringatan.

"Kenapa?! Setelah semua yang kulakukan?!"

Tanpa sadar, dia membentak sang kucing. Suara dia yang biasanya lembut, yang dulu menenangkan ketakutan si kucing, berubah menjadi teriakan penyesalan dan pengkhianatan. Itu adalah reaksi murni dari hati yang hancur karena merasa dibelakangi dan kecewa oleh pilihan sang kucing yang memilih kembali ke Pemilik yang sudah menelantarkannya.

🌊 

Akibatnya fatal. Kekecewaan sang Pengembala menciptakan trauma baru pada diri kucing. Kucing yang kini sudah sembuh total dari luka fisik, kini terluka lagi secara psikologis. Ia berlari.

Ironisnya, kucing itu mulai melupakan sang Pengembala. Melupakan tangan yang memberinya usapan hangat, melupakan hati yang memberinya tempat berlindung. Sang kucing hanya ingat teriakan terakhir Pengembala itu, sementara perhatian dan kasih sayang sang pengembala selama ini seakan dianggap hilang begitu saja.

Seorang Pengembala yang semula mencoba menyelamatkan seekor kucing dari lumpur penderitaan, kini justru terperosok ke dalamnya sendiri.

Dalam sekejap, narasi terbalik.

Sang Pengembala yang tulus merawat, kini seakan menjadi biang kerok yang mencoba memisahkan sang kucing dari kebahagiaannya.

Kucing yang telah kembali sehat itu kini sepenuhnya diambil oleh pemiliknya, dan terlihat benar-benar bahagia kembali bersama orang yang pernah meninggalkannya dan seakan-akan penderitaan selama ini yang sudah berhasil disembuhkan oleh sang Pengembala tidak terasa dan tidak ada artinya.

Sang Pengembala hanya bisa berdiri, menatap punggung si kucing yang menjauh. Dan menolak untuk menoleh, bahkan memblokir akses sang pengembala dari kehidupannya.

Sang Pengembala menyadari, dengan hati yang remuk,

bahwa terkadang, pengorbanan kita yang paling tulus justru harus berakhir dengan penerimaan pahit:

bahwa kita hanya penolong sementara, dan hati yang kita selamatkan akan selalu punya hak untuk kembali memilih tempat yang terasa seperti rumah, bahkan jika rumah itu adalah sumber dari luka yang kita sembuhkan.

BERSAMBUNG...

di kehidupan selanjutnya 👋🏻🥹

1 komentar: