اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
Julaibib hadir ke
dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya. Demikian pula orang2, semua tak
tahu/tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah
dia.
Bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab
dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.
Julaibib yang
tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia
berdekat-dekat dengannya.
Wajahnya jelek terkesan
sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya
pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan
berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil, beratapkan langit. Tak ada
perabotan. Minum hanya dari kolam umum yg diciduk dengan tangkupan telapak
tangan.
Namun jika Allah
berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluk pun bisa menghalangi.
Julaibib menerima
hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad.
Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia... tiada, tidak
begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.
Julaibib yg tinggal
di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Rasulullah.
“Julaibib”, begitu
lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya
Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab
dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir
Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin
memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya,
ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.
Dan di hari ketiga
itulah, Rasulullah menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah
seorang pemimpin Anshar.
“Aku ingin menikahkan
putri kalian.”
“Betapa indahnya dan
betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang
Nabi lah calon menantunya.
“Ooh.. Ya Rasulullah,
ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan
untukku”, kata Rasulullah,
“ku pinang putri
kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris
terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah”,
terdengar helaan nafas berat.
“Saya harus meminta
pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”,
istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak
berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan
pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak
berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun,
“Siapa yang meminta?”
Sang ayah dan sang
ibu menjelaskan.
“Apakah kalian hendak
menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah,
karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan
kerugian bagiku”.
Sang gadis yg
shalehah lalu membaca ayat ini :
“Dan tidaklah patut
bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia
telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
Setelah
mendengar persetujuan tersebut dari sang gadis, lantas Rasulullah pun menunduk
dan berdoa untuk gadis shalihah itu “ Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya,
dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan
bermasalah,".
Oleh
karena itu, doa Nabi SAW terkabul.Tak lama kemudian, Allah memberinya jalan
keluar. Ternyata kebersamaan di dunia ini tidak akan bertahan lama. Wanita ini
shalehah dan beriman di dunia, namun bidadari sudah lama merindukannya di surga.
Dan
benar saja, kala itu kaum muslim mengikuti perang Uhud , dan di akhir
peperangan Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya
“Apakah
kalian kehilangan seseorang?” tanya Rasulullah SAW
“Tidak,
Ya Rasulullah” jawab mereka. Hal tersebut menandakan bahwa memang Julaibib RA
tidak berarti untuk mereka.
Setelah
mendengar jawaban itu, lantas Rasulullah SAW pun berkata lagi dengan menghela
napasnya
“Tapi
aku kehilangan Julaibib” setelah mendengar kalimat tersebut dari Rasulullah,
lantas para sahabat pun tersadar dan segera mencarinya.
Setelah
pencarian itu, akhirnya Julaibib RA pun ditemukan dengan luka sekujur tubuhnya
dan disamping jasadnya terdapat tujuh jasad musuhnya yang telah dia bunuh.
Setelah
itu, jasad Julaibib RA dibawa oleh Rasulullah untuk dimakamkan dengan
Rasulullah sendiri yang mengkafaninya. Rasulullah pun menyalatkannya dan berdoa
“ Ya Allah dia adalah bagian dari diriku, dan akua adalah bagianya darinya. Dan
hal itu membuat para sahabat berdecak kagum dan sedikit ada rasa iri, bagaimana
tidak? Seorang seperti Julaibib RA yang selama ini dihina oleh orang-orang
namun begitu sangat mulia dihadapan Rasululullah SAW.
Dan
kala itu, Rasulullah pun menyampaikan bahwa “Walaupun Julaibib belum sempat
merasakan indahnya hidup berumah tangga, belum sempat merasakan indahnya malam
pertama dengan istrinya, namun Julaibib RA akan merasakan Indahnya surga
ditemani para bidadari.
Setelah
mendengar kematian dari Julaibib, istrinya dengan menangis pun berkata
“Waha
suamiku maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu aku belum sempat melaksankan
kewajibanku sebagai istri, meskipun begitu aku sangat bangga terhadapmu yang
rela meninggalkan kesenangan duniawi dan berani mempertaruhkan nyawamu dan
menemani baginda Rasul berperang untuk membela agama Islam”
“Tunggu
aku wahai suamiku, kelak aku akan menyusulmu ke surganya Allah dan aku akan
memenuhi kewajibanku sebagai istrimu”
Dan
setelah itu Rasulullah juga berkata “ Walaupun kehidupan didunia Julaibib
sering dihina, sering dicela. Namun kedatangannya Julaibib sedang ditunggu oleh
puluhan bidadari surga”
Demikian
kisah tentang Julaibib RA, seorang sahabat Nabi yang insecure karena sering
dihina, dicela namun mulia di hadapan Rasulullah SAW. Dan kedatangannya
ditunggu oleh puluhan bidadari surga dan diperebutkan oleh bidadari surga.
Kita belajar dari
Julaibib untuk tidak mengutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir,
untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi
Julaibib. Hidup dalam pilihan2 yg sangat terbatas.
Memang pasti ada
batas2 manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita taat
kepada Allah, jgn khawatirkan itu lagi. Allah Maha Tahu batas2 kemampuan diri
kita. Allah takkan membebani kita melebihi yg kita sanggup memikulnya.
Urusan kita sebagai
hamba hanya taat kepada Allah.Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan
jalan keluar dari masalah2 yg di luar kuasa kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar